Data penyebaran gas metana. (foto:Dok.data.carbonmapper.org)

TPST Bantargebang Jadi Penyumbang Emisi Metana Terbesar Kedua di Dunia, Ancaman Lingkungan dan Kesehatan Meningkat

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.co.id, BERITA — TPST Bantargebang kembali menjadi sorotan internasional setelah disebut sebagai salah satu penyumbang emisi gas metana terbesar di dunia dari sektor tempat pembuangan sampah.

Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terkait dampak lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga ancaman perubahan iklim.

Berdasarkan laporan terbaru dari UCLA School of Law dan Carbon Mapper, TPST Bantargebang tercatat sebagai penghasil emisi metana terbesar kedua di dunia untuk kategori landfill atau tempat pembuangan akhir sampah.

Data pemantauan satelit menunjukkan laju emisi metana di kawasan tersebut mencapai 6.336 kilogram per jam atau sekitar 6,3 ton gas metana yang terlepas ke atmosfer setiap jamnya.

Sebagai lokasi pembuangan utama sampah dari Jakarta, TPST Bantargebang diketahui menerima sekitar 7.000 hingga 8.000 ton sampah per hari. Volume sampah yang sangat besar memicu proses pembusukan organik tanpa oksigen yang menghasilkan gas metana dalam jumlah tinggi.

Gas metana sendiri dikenal sebagai salah satu gas rumah kaca paling berbahaya. Berdasarkan penelitian dan data dari Greenhouse Gas Management Institute, daya rusak metana terhadap pemanasan global dalam jangka 20 tahun mencapai lebih dari 80 kali lipat dibanding karbon dioksida (CO2).

Kondisi ini dinilai ikut mempercepat peningkatan suhu udara di wilayah sekitar Bekasi dan kawasan penyangga ibu kota lainnya.

Selain berdampak pada iklim, emisi metana juga berpotensi memicu masalah kesehatan. Meski tidak bersifat racun secara langsung dalam konsentrasi normal, gas ini dapat memicu pembentukan ozon permukaan tanah melalui reaksi kimia di atmosfer.

Ozon troposfer tersebut diketahui dapat menyebabkan gangguan pernapasan, merusak ekosistem, hingga memengaruhi produktivitas pertanian. Tingginya emisi di sekitar tempat pembuangan sampah juga kerap dikaitkan dengan meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di masyarakat sekitar.

Tidak hanya itu, konsentrasi metana yang tinggi juga meningkatkan risiko ledakan dan kebakaran di area tumpukan sampah.

Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempercepat rencana pengolahan sampah menjadi energi di Bantargebang. Gubernur Pramono Anung menyatakan pihaknya telah menyetujui pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) serta fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar.

“Saya sudah menyetujui agar di Bantargebang segera dibangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) dan pengolahan sampah menjadi bahan bakar,” ujar Pramono.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup juga tengah mengkaji berbagai teknologi transisi untuk menekan emisi metana sambil menunggu pembangunan infrastruktur utama selesai.

Jumhur Hidayat mengatakan pemerintah sedang mematangkan penerapan teknologi karya anak bangsa untuk mengurangi gas metana di kawasan tersebut.

“Di antaranya teknologi-teknologi yang dikembangkan anak bangsa yang bisa segera menghilangkan itu, terutama gas metana itu ya kita kerjakan,” kata Jumhur.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kota Bekasi juga mengakui dampak kesehatan akibat tingginya emisi metana di sekitar TPST Bantargebang tidak bisa dianggap sepele.

Kepala Dinkes Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini, menyebut pihaknya telah memberikan perhatian khusus bagi warga di sekitar Bantargebang.

“Tentunya akan mempengaruhi kami ya, karena itu kan gas berbahaya. Pastinya berhubungan dengan pernapasan ya,” ujar Satia.

Ia menjelaskan pelayanan kesehatan dan bantuan vitamin bagi masyarakat sekitar TPST Bantargebang diberikan lebih besar dibanding wilayah lain sebagai langkah antisipasi dampak kesehatan.

Ke depan, pemerintah berharap pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), pengurangan sampah plastik, serta budaya memilah sampah dapat membantu menekan emisi gas metana sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan bagi masyarakat sekitar.

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami