(Foto: Dok. Humas PDAM Makassar)

PDAM Makassar Salurkan 4,56 Juta Liter Air Gratis, Armada Kecil Sasar Lorong Permukiman

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.co.id, BERITA — Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar terus memperkuat penanganan dampak kemarau panjang dengan menyalurkan air bersih secara gratis kepada masyarakat yang mengalami krisis air.

Distribusi dilakukan menggunakan mobil tangki serta kendaraan berukuran lebih kecil yang dilengkapi tandon air. Armada kecil tersebut dikerahkan untuk menjangkau lorong-lorong permukiman yang sulit dimasuki kendaraan tangki berukuran besar.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PDAM Makassar, Andi Syahrum Makkuradde, mengatakan bantuan air bersih diberikan kepada pelanggan maupun masyarakat yang bukan pelanggan PDAM.

“Penyaluran secara gratis, memberikan bantuan air bersih gratis bagi pelanggan maupun nonpelanggan yang mengalami krisis air,” kata Andi Syahrum, Selasa, 22 September 2026.

Hingga saat ini, distribusi air bersih telah menjangkau sembilan wilayah kecamatan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Bontoala, Wajo, Tamalanrea, Biringkanayya, sebagian Panakkukang, sebagian Manggala, dan sebagian Kecamatan Makassar.

Untuk memperluas jangkauan pelayanan, PDAM menyiapkan armada kecil di sejumlah wilayah pelayanan. Kendaraan tersebut membawa tandon air sehingga dapat menyusuri jalan sempit dan lorong permukiman.

Andi Syahrum menegaskan bantuan tersebut tidak dipungut biaya, termasuk bagi warga yang bukan pelanggan PDAM. Namun, masyarakat nonpelanggan tetap harus mengajukan surat permohonan sebagai bagian dari mekanisme administrasi.

“Kalau tidak pelanggan, tentu ada suratnya masuk. Supaya nanti kalau diperiksa, kita ke mana kok bawa air ini,” jelasnya.

Menurutnya, administrasi diperlukan karena air yang disalurkan merupakan aset yang harus dipertanggungjawabkan.

“Karena air ini kan bernilai uang. Setetes air pun itu harus kita pertanggungjawabkan ke mana,” sambung Andi Syahrum.

Dalam pelaksanaan penanganan kekeringan, PDAM Makassar telah menerbitkan 1.110 Surat Perintah Kerja (SPK) distribusi air.

Dari kegiatan tersebut, total air bersih yang telah disalurkan mencapai sekitar 4.560.000 liter.

Distribusi dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri. PDAM juga memberikan dukungan melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

“Yang ke BPBD, TNI, Polri itu gratis. Tetapi kita punya SK dalam rangka kekeringan, CSR-nya PDAM memberikan bantuan air,” ujarnya.

Andi Syahrum mengatakan kondisi distribusi air tidak hanya dipengaruhi ketersediaan sumber air. PDAM juga memantau antrean mobil tangki sebagai salah satu indikator kelancaran pasokan air ke jaringan pelayanan.

Ketika antrean mobil tangki mulai berkurang, kondisi tersebut menjadi salah satu tanda bahwa pasokan air ke jaringan pelayanan mulai berjalan lebih lancar. Di sisi lain, PDAM tetap melakukan pemantauan terhadap kualitas air, termasuk parameter Total Dissolved Solids (TDS).

“Untuk mengantisipasi kebutuhan warga di kawasan yang sulit terjangkau, enam wilayah pelayanan PDAM telah kita siapkan armada kecil yang membawa tandon air dan dapat masuk ke lorong-lorong permukiman,” terang mantan Camat Biringkanaya itu.

Selain persoalan ketersediaan air, PDAM Makassar juga menerima laporan masyarakat mengenai air yang berwarna hitam.

Andi Syahrum menjelaskan kondisi tersebut dapat terjadi ketika terdapat pekerjaan atau pergantian jaringan pipa. Saat pipa yang sebelumnya kosong kembali dialiri air, endapan atau material yang berada di dalam jaringan dapat ikut terbawa aliran.

“Itulah, pergantian pipa, pada saat pipa kosong, kemudian air mengalir, tentu membawa beberapa ampas-ampas di situ,” jelasnya.

Ia mengakui kondisi jaringan perpipaan menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kualitas dan kontinuitas pelayanan. Jaringan yang telah berkembang kompleks juga tidak seluruhnya mudah dipetakan.

Sejumlah jaringan pipa berada cukup dalam sehingga pekerjaan perbaikan membutuhkan koordinasi dan perizinan dengan pihak terkait. Andi Syahrum mencontohkan jaringan di kawasan Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan Perintis Kemerdekaan yang berada sekitar dua meter di bawah permukaan tanah.

Kondisi tersebut membuat pekerjaan membutuhkan izin serta persyaratan jaminan tertentu. Namun, PDAM masih menghadapi kendala administrasi karena belum memiliki nomenklatur anggaran untuk pembayaran jaminan tersebut.

Meski menghadapi tantangan teknis dan administratif, PDAM Makassar memastikan distribusi air bersih tetap dilakukan selama kemarau berlangsung.

“Kami PDAM juga terus berkoordinasi dengan pimpinan Pemerintah Kota, BPBD, TNI, Polri serta unsur RT/RW agar bantuan air dapat diarahkan kepada warga yang benar-benar membutuhkan,” tukasnya.

Penggunaan kendaraan berukuran kecil untuk menjangkau lorong-lorong permukiman mendapat perhatian pemerhati publik, Dr. Nurmal Idrus.

Nurmal menilai pendekatan tersebut relevan dalam kondisi kemarau panjang karena distribusi air tidak hanya dilakukan di titik yang mudah dijangkau kendaraan besar, tetapi juga mendekati lokasi warga yang membutuhkan.

“Logikanya sederhana, kalau warga sulit mendatangi air, maka air yang harus mendatangi warga,” kata Nurmal.

Menurutnya, kondisi Kota Makassar tidak hanya terlihat dari kawasan jalan protokol, gedung tinggi, dan pusat bisnis. Di balik kawasan tersebut terdapat lorong-lorong permukiman yang menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus menghadapi persoalan pelayanan dasar.

Karena itu, kendaraan pengangkut air berukuran lebih kecil dinilai dapat menjadi bagian dari strategi distribusi di kawasan yang sulit dijangkau mobil tangki.

“Kendaraan ini bisa menyusuri lorong-lorong yang sulit dijangkau kendaraan besar,” ujarnya.

Nurmal menilai substansi pendekatan tersebut bukan sekadar penggunaan kendaraan kecil, melainkan pola pelayanan publik yang mempertimbangkan akses masyarakat.

“Pelayanan publik tidak selalu harus menunggu warga datang. Sesekali pemerintah yang harus mendatangi warga,” katanya.

Ia berharap pendekatan tersebut terus diperkuat selama kemarau berlangsung, sekaligus dibarengi pembenahan jaringan dan penguatan sistem penyediaan air bersih secara berkelanjutan.

“Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang punya jalan besar, tetapi juga kota yang pemerintahnya mau masuk ke jalan-jalan kecil tempat warganya hidup,” tandas Nurmal.

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami