KataKerja.id, BERITA – Ini sudah tahun ketiga Tata Mandong meninggalkan rumah kecil yang sangat dicintainya di Lembah Ramma. 3 Juli 2017 silam, dia harus meninggalkan lembah yang telah mengambil semua cintanya itu karena sakit yang menggerogoti fisiknya.
“Waktu itu saya sama anakku Jalin dan ponakanku, Muhammad yang masuk jemput ki’ di Lembah Ramma,” jelas Asma, ponakan Tata Mandong saat ditemui KataKerja.id di rumahnya, Kamis, 3 September 2020. Kondisi fisik yang menurun drastis membuat Tata Mandong saat itu terpaksa ditandu hingga ke rumah Asma di Lingkungan Bontotene, Kelurahan Bontolerung, Kecamatan Tinggimoncong.
Saat sakitnya itu, Tata Mandong sempat menjalani rawat inap di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar dan
vonis dokter yang merawatnya adalah kenyataan pahit yang harus diterima oleh Asma dan keluarga lainnya. “Satu minggu di rumah sakit. Anak-anak pencinta alam ji semua yang kasih masuk ki’ waktu itu ke rumah sakit,” terang Asma yang merupakan anak dari Tata Kumi, kakak kandung Tata Mandong.
Asma bangkit dari duduknya. Ia berdiri dan membuka lemarinya. Beberapa menit mencari, Asma mengeluarkan sebuah map plastik berwarna biru. Isinya berlembar-lempar surat penting. Salah satunya berupa dua lembar surat yang merupakan rekam medis Tata Mandong. “Dokter bilang katanya Tata stroke, baru katanya yang kena saraf bicaranya,” jelasnya sambil memperlihatkan dua lembar kertas di tangannya.
Kepada KataKerja.id, ibu dua anak itu menerangkan bahwa sejak Sabtu, 30 Agustus lalu, kondisi Tata Mandong tiba-tiba menurun drastis. Jika sebelumnya Tata Mandong masih bisa berjalan dan sering meluangkan diri saban pagi keluar rumah untuk menikmati siraman matahari, namun sejak Sabtu, Asma mengaku Tata Mandong hanya bisa terbaring di kasur. “Iye waktu hari Sabtu tiba-tiba ponakanku dapat ki’ (Tata Mandong, red) duduk di dalam kamar mandi. Nda bisa ki’ jalan,” kata Asma.
Kondisi Tata yang lahir pada 1 juli 1937 itu kian buruk karena kurangnya asupan gizi. “Nda mau makan, pak. Ini terakhir baru mau makan, itu lagi cuma mie ji sama telur,” paparnya. Ketika dikunjungi sejumlah pecinta alam di rumahnya, Tata Mandong memilih bangkit dari tidurnya dan duduk dengan bersandar di sebuah bantal.
Sebelum KataKerja.id pamit, dengan suara lirih yang terdengar seperti bergumam, Tata Mandong mengaku merasakan sakit di bagian dada dan perutnya. Sejumlah bagian tubuhnya juga kini terserang penyakit kulit yang mulai mengelupas, terutama di bagian punggung hingga kebagian pahanya. Usia yang kian menua dan penyakit memang telah merenggut begitu banyak dari fisiknya.
Tata Mandong adalah sosok yang akrab dengan para pecinta alam, khususnya yang kerap melakukan kegiatan pendakian di sekitar Gunung Bawakaraeng. Sebelum sakit, Tata Mandong tinggal di sebuah rumah kecil di Lembah Ramma, sebuah lembah yang terletak di kawasan Gunung Bawakaraeng. Tata Mandong sejak puluhan tahun terlibat langsung dalam proses pelestarian dan perlindungan alam di sekitar kawasan tersebut.














