Ilustrasi ((Foto: Shutterstock)

Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS, Konflik AS-Iran dan Tekanan Global Jadi Pemicu

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.co.id, BERITA Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan hebat dan mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah. Pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, rupiah resmi menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, mata uang rupiah melemah 98 poin atau sekitar 0,56 persen ke posisi Rp17.512 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sejak pembukaan perdagangan pagi yang sudah berada di level Rp17.489 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, terutama terkait konflik di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas perdagangan dan pasokan energi internasional.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai kebuntuan diplomasi antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Menurutnya, perhatian investor kini tertuju pada kondisi Selat Hormuz yang masih terganggu akibat konflik. Ketidakpastian tersebut memicu gejolak di pasar energi dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar global juga tengah menanti data inflasi Amerika Serikat untuk periode April 2026. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) dipandang penting karena akan menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS selanjutnya.

Ahli strategi mata uang dari OCBC, Christopher Wong, mengatakan penguatan dolar AS saat ini juga dipengaruhi oleh sikap Presiden AS Donald Trump yang menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian terbaru.

Meski demikian, Wong menilai pasar belum sepenuhnya masuk ke fase panic risk-off. Namun apabila diplomasi benar-benar gagal atau terjadi eskalasi militer baru, gejolak pasar diperkirakan akan jauh lebih besar.

Dalam 24 jam terakhir, rupiah bergerak cukup tajam. Pada Senin sore, 11 Mei 2026, rupiah ditutup di level Rp17.414 per dolar AS. Keesokan paginya, mata uang Garuda langsung dibuka melemah ke Rp17.489 sebelum akhirnya menyentuh level Rp17.512 pada siang hari.

Pelemahan rupiah ini diperkirakan akan meningkatkan tekanan terhadap sektor impor dan berpotensi mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri akibat biaya impor yang semakin mahal.

Pelaku pasar kini menantikan langkah intervensi dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam volatilitas pasar keuangan domestik.

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami