(Foto: Dok. Humas PDAM Kota Makassar)

Pendapatan PDAM Makassar Naik Jadi Rp29,06 Miliar pada Agustus 2026, Produksi Air Mulai Membaik

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.co.id, BERITA — Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi Perumda Air Minum Kota Makassar dalam mempertahankan produksi dan distribusi air bersih kepada pelanggan. Namun, di tengah keterbatasan air baku, pendapatan perusahaan dari tagihan pemakaian air justru mengalami peningkatan pada Agustus 2026.

Pendapatan PDAM Makassar pada Agustus tercatat sebesar Rp29,06 miliar, atau meningkat sekitar Rp741,6 juta dibandingkan Juli 2026 yang mencapai Rp28,32 miliar.

Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa berbagai pembenahan pada sektor produksi dan distribusi mulai memberikan hasil. Meski demikian, pertumbuhan pendapatan tetap perlu diiringi dengan peningkatan kualitas pelayanan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Plt Direktur Keuangan Perumda Air Minum Kota Makassar, Wirda Fauzah, mengatakan peningkatan penerimaan perusahaan tidak terlepas dari membaiknya produksi air di sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA).

Menurutnya, berbagai langkah perbaikan yang dilakukan jajaran Bagian Produksi mulai menunjukkan dampak terhadap kapasitas produksi. Salah satunya melalui pengerukan Sungai Lekko Paccing yang menjadi salah satu sumber air baku PDAM.

“Sejumlah pembenahan yang dilakukan tim produksi mulai memberikan dampak terhadap peningkatan produksi air. Salah satunya melalui pengerukan Sungai Lekko Paccing,” ujar Wirda.

Selain normalisasi sumber air baku, pengoperasian Intake Manggala juga turut berkontribusi terhadap peningkatan pasokan air kepada pelanggan.

Perbaikan distribusi tersebut mulai tercermin dalam pendapatan berdasarkan wilayah penagihan. Sejumlah kawasan yang sebelumnya mencatat penerimaan relatif rendah akibat pasokan air yang belum optimal mulai menunjukkan peningkatan.

“Kenaikan pendapatan ini terlihat di wilayah utara kota dan beberapa sektor lainnya. Ini menunjukkan bahwa pasokan air mulai lebih merata dibandingkan sebelumnya,” katanya.

Meski pendapatan meningkat, kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi PDAM untuk memastikan pertumbuhan penerimaan berjalan beriringan dengan peningkatan pelayanan.

Bagi masyarakat, kinerja perusahaan air minum tidak hanya dinilai berdasarkan laporan keuangan. Kelancaran aliran air, tekanan yang memadai, pemerataan distribusi, serta semakin minimnya gangguan menjadi indikator yang lebih nyata bagi pelanggan.

Di tengah keterbatasan kewenangan dan ruang fiskal, PDAM Makassar terus mengoptimalkan berbagai langkah operasional yang masih dapat dilakukan untuk menjaga produktivitas perusahaan.

Wirda mengungkapkan, status jajaran direksi yang masih berstatus Pelaksana Tugas (Plt) membuat ruang gerak perusahaan dalam mengambil sejumlah keputusan investasi strategis bernilai besar menjadi lebih terbatas.

Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan upaya perbaikan pelayanan. Perusahaan tetap mendorong berbagai program yang dapat meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi kehilangan air.

Salah satu program yang terus diperkuat adalah “Grebek Kebocoran”. Melalui program tersebut, tim PDAM turun langsung untuk menemukan titik-titik kebocoran pada jaringan distribusi.

Pencarian kebocoran bahkan dilakukan pada malam hingga dini hari untuk memudahkan proses identifikasi titik gangguan.

“Tim melakukan pencarian titik kebocoran pada malam hari, bahkan sampai subuh. Ini tentu sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan efisiensi karena semakin cepat kebocoran ditemukan dan ditangani, semakin banyak air yang bisa diselamatkan,” jelas Wirda.

Program tersebut dinilai semakin penting di tengah kondisi musim kemarau. Kehilangan air akibat kebocoran tidak hanya berdampak terhadap efisiensi perusahaan, tetapi juga berpotensi mengurangi volume air yang dapat disalurkan kepada pelanggan.

Selain menekan kebocoran jaringan, PDAM Makassar juga melakukan pembenahan terhadap akurasi pembacaan meter pelanggan.

Petugas pembaca meter telah dilengkapi sistem yang diharapkan mampu menghasilkan pencatatan konsumsi air secara lebih akurat. Dengan demikian, potensi kesalahan pencatatan maupun taksasi yang tidak sesuai dengan pemakaian aktual dapat diminimalkan.

Bagi pelanggan, ketepatan pembacaan meter merupakan bagian penting dalam pelayanan karena besaran tagihan idealnya mencerminkan volume air yang benar-benar digunakan.

“Teman-teman yang bertugas membaca meter sudah dibekali dengan sistem yang cukup baik. Jadi, tidak ada lagi taksasi asal-asalan yang justru dapat memberatkan masyarakat,” ungkapnya.

Kenaikan pendapatan sebesar Rp741,6 juta dalam satu bulan menunjukkan adanya perkembangan positif dalam penerimaan PDAM Makassar. Namun, capaian tersebut juga menjadi pekerjaan rumah agar peningkatan pendapatan tidak berhenti sebagai angka dalam laporan keuangan.

Perusahaan tetap dituntut mempertahankan produksi, memperbaiki distribusi, mengurangi kehilangan air, serta memastikan akurasi pencatatan meter pelanggan.

Terlebih, musim kemarau masih menjadi tantangan terhadap ketersediaan air baku. Kemampuan PDAM dalam menjaga produksi dan distribusi akan menjadi faktor penting dalam memastikan peningkatan kinerja perusahaan dapat dirasakan masyarakat.

Wirda menegaskan bahwa capaian pendapatan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh jajaran Perumda Air Minum Kota Makassar, mulai dari direksi hingga para pegawai yang bekerja langsung di lapangan.

“Alhamdulillah, semua ini berkat kerja keras teman-teman direksi dan seluruh karyawan yang terus bekerja di lapangan,” pungkasnya.

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami