KataKerja.co.id, BERITA — Kasus dugaan keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Surabaya menjadi sorotan setelah sekitar 200 siswa dari 12 sekolah mengalami sakit perut usai menyantap makanan yang dibagikan pada Senin, 11 Mei 2026.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi mengungkap bahwa menu daging slice olahan krengsengan yang disajikan hari itu merupakan menu baru yang pertama kali diberikan kepada siswa, termasuk di SD Pancasila 45.
Kepala SPPG Tembok Dukuh Bubutan, Chafi Alida Najla, menduga kontaminasi terjadi saat makanan dikonsumsi siswa.
“Jadi saat kejadian itu berlangsung banyak laporan yang mana bahwa anak-anak itu mengeluhkan sakit perut setelah memakan dagingnya gitu. Tapi di dalam ompreng itu ada daging, nasi, dan sebagainya, mungkin saat anak-anak itu makan nasi juga sudah terkontaminasi seperti itu,” ujar Chafi.
Ia menjelaskan bahwa bahan baku daging yang digunakan sebenarnya dalam kondisi segar dan telah memenuhi standar sebelum dimasak. Proses memasak sendiri dilakukan sejak Minggu malam hingga dini hari.
Chafi juga memastikan bahwa proses pengolahan dan penggunaan bumbu sudah sesuai prosedur yang berlaku. Namun, ia membenarkan bahwa menu krengsengan daging slice baru pertama kali dicoba dalam distribusi MBG.
“Karena sebelumnya kita juga sudah pernah pakai olahan daging itu tidak apa-apa, seperti itu. Tapi kalau yang memang daging ini baru pertama kali mengingat anak-anak ini yang request juga anak-anak, kita juga berusaha inovasi dan akhirnya kita mencoba untuk daging, daging slice dibentuk krengsengan,” katanya.
SPPG Tembok Dukuh diketahui mendistribusikan makanan MBG ke 13 sekolah dengan total lebih dari 3.000 porsi setiap hari. Namun, pada hari kejadian distribusi langsung dihentikan setelah muncul laporan keracunan dari sejumlah sekolah.
Sebelumnya, Puskesmas Tembok Dukuh mencatat sekitar 200 siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG. Seluruh siswa dilaporkan menjalani rawat jalan dan diperbolehkan pulang setelah mendapat pemeriksaan medis.
Kasus ini memunculkan perhatian publik terhadap pengawasan kualitas makanan dalam program MBG, terutama terkait keamanan bahan pangan dan proses distribusi makanan kepada siswa.














