KataKerja.co.id, BERITA — Ada satu kabar yang mungkin membuat El Nino sedikit kecewa.
Ia datang membawa musim kemarau, seolah berharap warga Makassar kembali akrab dengan ember, jeriken, dan kebiasaan menunggu air mengalir. Namun, setidaknya di beberapa sudut Kota Makassar, harapan itu tampaknya tidak sepenuhnya terwujud.
Di kawasan utara kota, wilayah yang selama bertahun-tahun identik dengan persoalan distribusi air bersih, keran kini justru tetap mengalir. Padahal, kemarau sedang berada pada puncaknya.
Saya masih ingat, dulu ketika musim seperti ini tiba, membuka keran di rumah lebih sering menghasilkan suara angin daripada air. Warga sudah terbiasa begadang menunggu jadwal air yang datangnya sulit ditebak. Mengisi bak mandi saat itu lebih terasa seperti menunggu keberuntungan.
Kini suasananya mulai berbeda.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama jajaran Perumda Air Minum Kota Makassar, persoalan yang selama ini dianggap sebagai masalah rutin perlahan mulai dibenahi. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari normalisasi saluran air baku, perbaikan Intake Manggala, hingga rekayasa distribusi agar pasokan air dapat menjangkau wilayah utara.
Istilahnya memang rekayasa distribusi. Untungnya, yang direkayasa adalah jalur aliran air, bukan sekadar angka di atas kertas. Ukurannya sederhana: jika air benar-benar keluar dari keran warga, berarti upaya itu bekerja.
Tentu masih ada pekerjaan rumah. Masih ada beberapa wilayah yang membutuhkan pembenahan dan kualitas layanan yang harus terus ditingkatkan. Namun setidaknya, perubahan mulai terasa. Warga kini lebih percaya pada air yang mengalir di rumah mereka daripada sekadar mendengar penjelasan tentang rencana perbaikan.
Kalau kondisinya terus membaik seperti ini, mungkin El Nino memang harus menerima kenyataan bahwa musim kemarau tidak selalu identik dengan krisis air.
Semoga air bersih yang kini mulai mengalir bukan hanya keberhasilan sesaat, melainkan menjadi pelayanan yang konsisten bagi seluruh warga Kota Makassar.
Sebab pada akhirnya, bagi masyarakat, suara air yang mengalir dari keran selalu lebih menenangkan daripada panjangnya penjelasan tentang pelayanan publik.














