KataKerja.co.id, BERITA — Harga emas di pasar spot turun 1,02 persen menjadi US$4.063,67 per ons pada pukul 08.50 GMT. Harga emas bahkan sempat menyentuh level terendah sejak awal Juli 2026.
Sementara itu, harga kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga mengalami penurunan sebesar 1,97 persen menjadi US$4.074,80 per ons.
Penurunan harga emas dunia terjadi setelah Donald Trump menyatakan tidak lagi ingin terlibat dalam pembicaraan dengan Iran.
Pernyataan tersebut berkaitan dengan pembatalan sepihak nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Juni 2026. Kesepakatan tersebut sebelumnya ditujukan untuk mengakhiri konflik antara AS dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Kabar tersebut langsung memicu gejolak di pasar komoditas. Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 5 persen setelah kekhawatiran terhadap kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat.
Situasi semakin memanas setelah Korps Garda Revolusi Iran menyatakan telah menargetkan pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas serangan udara AS sebelumnya serta kebijakan AS terkait ekspor minyak Iran.
Emas selama ini dikenal sebagai salah satu aset safe haven yang banyak diminati investor ketika terjadi ketidakpastian geopolitik.
Namun, meningkatnya harga minyak akibat konflik AS-Iran justru menimbulkan kekhawatiran baru terhadap inflasi global.
Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di AS. Kondisi tersebut dapat membuat The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya.
Suku bunga tinggi cenderung memberikan tekanan terhadap harga emas karena emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan harga emas berpotensi memasuki fase konsolidasi dalam jangka pendek.
“Emas tampaknya akan berada dalam fase konsolidasi dalam jangka pendek. Kita perlu melihat pelemahan data tenaga kerja AS dan penurunan angka inflasi agar pejabat The Fed bersikap lebih longgar (less hawkish), sehingga harga emas bisa bergerak naik kembali,” kata Staunovo.
Tekanan terhadap harga emas juga terlihat dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga AS pada September mendatang meningkat menjadi 66 persen, dari sebelumnya 62 persen.
Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas karena investor dapat mengalihkan dana ke aset berbasis bunga yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Penurunan tidak hanya terjadi pada emas. Sejumlah logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan.
Harga perak spot turun 2,37 persen menjadi US$58,59 per ons. Sementara itu, platinum merosot hampir 3 persen menjadi US$1.591,88 per ons.
Harga palladium juga mengalami penurunan sebesar 3,9 persen ke level US$1.227,18 per ons.
Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase kritis setelah sebelumnya sempat mereda melalui kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni 2026.
Konflik tersebut berkaitan dengan sejumlah isu, termasuk sanksi ekonomi, jalur strategis perdagangan minyak, serta program nuklir Iran.
Keputusan AS terkait ekspor minyak Iran dan serangan udara terhadap sejumlah target di kawasan tersebut kemudian memicu respons militer Iran terhadap pangkalan AS di Timur Tengah.
Berakhirnya kesepakatan damai tersebut meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan Teluk. Kondisi ini juga berpotensi mengganggu rantai pasok energi global dan meningkatkan volatilitas di pasar komoditas maupun pasar keuangan.
Dengan perkembangan tersebut, pergerakan harga emas dunia ke depan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, harga minyak, inflasi AS, serta arah kebijakan suku bunga The Fed.














