KataKerja.id, BERITA – Gondrong selalu identik dengan pria berambut panjang. Tentangnya, stigma yang terbentuk di masyarakat jauh dari kesan positif. Para pria berambut gondrong kerap digambarkan sebagai pria urakan, dekil dan jauh dari sikap disiplin. Banyak pula yang menganggap bahwa gondrong adalah cerminan perlawanan terhadap stigma masyarakat itu sendiri. Gondrong katanya adalah simbol dari kebebasan dan perlawanan.
Stigma terhadap pria berambut gondrong telah terbentuk sejak lama. Di era kepemimpinan Soekarno, pemerintah bahkan menyebut gondrong sebagai sebuah sikap anti-revolusioner.
Di zaman Soeharto, lebih parah lagi. Pria berambut gondrong bahkan dianggap tidak mencerminkan kepribadian bangsa. Pemerintah Soeharto malah melarang pria berambut gondrong. Hal itu dilegitimasi dalam sebuah aturan.
Saking seriusnya, di jaman Soeharto, pemerintah membentuk Bakoperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong). Aparat keamanan dilibatkan. Mereka menggelar razia di jalan-jalan bersenjatakan gunting. Siapa pun yang berambut gondrong kala itu, langsung dicukur di tempat.
Seiring perjalanan waktu, perlahan stigma itu pun mulai pudar. Namun pandangan miring terhadap pria berambut gondrong masih tetap ada dalam pikiran sebagian masyarakat.
Minggu (19/7/2020), KataKerja.id memilih menghabiskan waktu senggang bersama seorang pria berambut panjang di Makassar. Namanya, Chandra ZB. KataKerja.id mengenalnya sebagai seorang penggiat alam bebas. Dia tercatat sebagai anggota Mahasiswa Pencinta Alam Politeknik Negeri Ujung Pandang (Mapala PNUP). Tak hanya itu, sejak 3 tahun lalu dia juga menjadi salah satu anggota yang dituakan di sebuah komunitas beranggotakan ratusan anak muda berambut gondrong bernama Gondrongers Makassar.
“Gondrongers Makassar tebentuk pada tanggal 26 September tahun 2017. Tujuan awalnya, kami berharap komunitas ini bisa menjadi ruang silaturahmi, khususnya bagi mereka yang berambut gondrong,” terang Chandra. Saat ditemui, dia dan puluhan rekannya yang juga berambut panjang, tengah melakukan penggalangan dana di Fly Over Makassar bagi korban bencana Masamba.
Melalui Gondrongers Makassar, Chandra dan rekan-rekannya berniat mengubah stigma yang masih ada masyarakat terhadap anak-anak muda berambut panjang. Kini Gondrongers Makassar telah beranggotakan lebih 200 pemuda berambut panjang. Mereka berasal dari pelbagai kalangan, mahasiswa hingga pengusaha.
Mereka pun berangkat dari hobi yang beragam. Tak sedikit dari mereka yang tercatat sebagai pencinta alam, ada seniman, ada pula pencinta scooter. Tentang beberapa anggotanya yang tak lagi gondrong, Chandra bilang, “Beberapa teman ada yang potong rambut karena harus selesaikan kuliah. Ada juga yang karena nikah dan kerja. Tapi sampai kapan pun mereka tetap Gondrongers.”
Gondrongers Makassar telah mengurat begitu panjang catatan jejak rekam dalam pelbagai kegiatan, khususnya dalam kegiatan kemanusiaan dan kecintaan terhadap alam. “Tahun 2017, 2018, 2019, kami secara rutin melakukan aksi bersih dan penghijauan di Gunung Bawakaraeng. Kami juga terus terlibat dalam aksi-aksi kemanusiaan, seperti saat gempa Palu, kebakaran besar di Toli-Toli. Termasuk saat ini, kami juga mengirim relawan dan kembali turun ke jalan melakukan penggalangan dana untuk para korban banjir bandang di Masamba,” jelas Chandra.
Para pemuda berambut panjang ini bahkan tak sekali dua kali menjalin kasih dengan mereka yang sedang dirundung duka. Tahun lalu misalnya. Mereka beramai-ramai membantu memperbaiki rumah seorang guru mengaji di Kabupaten Gowa. Saat itu mereka juga menyerahkan bantuan lain berupa Al Quran. “Termasuk berbuka puasa bersama anak yatim piatu,” imbuh Chandra.
Sebentar lagi petang tapi sore masih terasa terik ketika KataKerja.id mengakhiri wawancara. Para anak muda berambut panjang terurai itu masih saja bertahan di bawah Fly Over Makassar. Derita para korban banjir bandang Masamba terlanjur mengusik rasa kepedulian dan kemanusiaan mereka. Stigma tentang mereka akan tetap ada, namun setidaknya apa yang telah dilakukan oleh para Gondrongers Makassar bisa menjadi bukti bahwa berambut panjang bukan penghalang untuk tetap berbuat baik.














