Ilustrasi (foto: pixabay)

Dolar AS Tembus Rp18.000, Rupiah Kian Tertekan di Tengah Ketidakpastian Global

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.co.id, BERITA — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah berhasil menembus level psikologis Rp18.000 per dolar.

Penguatan mata uang AS tersebut menambah tekanan terhadap rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren pelemahan.

Berdasarkan data perdagangan pada Kamis, 4 Juni 2026,  kurs dolar AS tercatat bergerak di atas level Rp18.000.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi perekonomian nasional, mulai dari sektor perdagangan, investasi, hingga daya beli masyarakat.

Data Investing mencatat dolar AS menguat sekitar 49,4 basis poin atau 0,28 persen ke posisi Rp18.015 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang Negeri Paman Sam itu bergerak dalam kisaran Rp17.937 hingga Rp18.024.

Sementara itu, data Google Finance menunjukkan dolar AS sempat menyentuh level Rp18.010 pada pukul 23.23 UTC atau sekitar pukul 06.23 WIB sebelum terkoreksi tipis ke posisi Rp17.971 pada pukul 00.15 UTC atau 07.15 WIB. Dan saat ini pukul 12.19 WIB, dolar AS menyentuh angka Rp18.040.

Di sisi lain, data Bloomberg mencatat penguatan dolar AS terhadap rupiah mencapai 0,71 persen secara harian dengan posisi terakhir berada di level Rp17.966 per dolar AS.

Meski terdapat perbedaan angka antarplatform penyedia data, keseluruhan indikator menunjukkan tren penguatan dolar AS yang masih berlanjut terhadap mata uang Indonesia.

Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Secara umum, dolar AS cenderung menguat ketika investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman atau ketika kondisi ekonomi Amerika Serikat menunjukkan performa yang lebih solid dibandingkan negara berkembang.

Situasi tersebut meningkatkan tekanan terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah. Dampaknya, biaya impor berpotensi meningkat sehingga dapat memengaruhi harga berbagai komoditas dan bahan baku yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Level Rp18.000 sendiri dinilai sebagai ambang psikologis penting yang kerap menjadi indikator sentimen pasar terhadap kekuatan rupiah.

Menanggapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus memantau dinamika pasar keuangan global maupun domestik. Bank sentral memastikan tetap hadir di pasar melalui berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung ketahanan ekonomi nasional.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa BI akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen yang dimiliki guna memastikan likuiditas valuta asing tetap terjaga dan mekanisme pasar berjalan secara sehat.

Menurutnya, langkah-langkah stabilisasi akan terus dilakukan agar volatilitas nilai tukar tetap terkendali serta pasar keuangan domestik dapat beroperasi secara normal di tengah tekanan eksternal yang meningkat.

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami