Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) menggelar Batik Walk pada Minggu, 9 Agustus 2026, sebagai pembuka rangkaian Jambore Batik Jawa Barat 2026. (Foto: YBJB)

Batik Walk Buka Jambore Batik Jawa Barat 2026, 300 Peserta Kenalkan Batik sebagai Gaya Hidup

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.co.id, BERITA — Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) menggelar Batik Walk pada Minggu, 9 Agustus 2026, sebagai pembuka rangkaian Jambore Batik Jawa Barat 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober mendatang.

Kegiatan tersebut menjadi langkah awal YBJB dalam mengampanyekan penggunaan batik Jawa Barat sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya batik di tengah masyarakat.

Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) Sendy Dede Yusuf mengatakan, Jambore Batik Jawa Barat 2026 akan menghadirkan sejumlah agenda, mulai dari Batik Walk, Pemilihan Duta Batik YBJB, peluncuran Buku Ajar Batik untuk jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK, hingga pertemuan para perajin batik dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Menurut Sendy, penyelenggaraan Jambore Batik Jawa Barat telah memperoleh dukungan langsung dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat YBJB melakukan audiensi di Gedung Pakuan beberapa bulan lalu.

Dukungan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui penyusunan agenda Jambore Batik Jawa Barat 2026.

“Batik Walk menjadi pembuka menuju Jambore Batik Jawa Barat 2026 yang kami harapkan menjadi ruang pertemuan, promosi, edukasi, regenerasi, sekaligus penguatan jejaring para perajin batik dari seluruh Jawa Barat,” ujar Sendy.

Batik Walk dimulai pukul 07.00 WIB dari halaman Gedung PR di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. Sekitar 300 peserta berjalan bersama melewati sejumlah kawasan bersejarah dan ikonik Kota Bandung.

Rute tersebut meliputi Gedung Merdeka atau Gedung Asia Afrika, Jalan Banceuy, Jalan Cikapundung, hingga Jalan Braga, sebelum berakhir di halaman Gedung Bank Indonesia di kawasan Braga.

Sendy menjelaskan, Batik Walk menjadi sarana untuk menyosialisasikan penggunaan batik Jawa Barat kepada masyarakat secara lebih luas. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat melihat keberagaman motif, warna, dan karakter batik dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat.

“Kami ingin mengajak masyarakat semakin mengenal, menggunakan, mencintai, dan membanggakan batik Jawa Barat sebagai bagian dari identitas budaya daerah sekaligus bangsa Indonesia,” katanya.

Batik Walk diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai organisasi, komunitas, lembaga pendidikan, hingga kelompok masyarakat.

Peserta di antaranya berasal dari Komunitas Cinta Berkain Indonesia, Istri Karyawan Bank Indonesia Bandung, Majelis Taklim Azzahra, Himpunan Ratna Busana, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung, mahasiswa Institut Teknologi Nasional Bandung, serta berbagai komunitas lain yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian batik dan budaya berkain.

Seluruh peserta mengenakan kain batik, busana batik, maupun aksesori bertema batik. Hal tersebut menciptakan suasana semarak sekaligus menunjukkan bahwa batik dapat dikenakan oleh berbagai kalangan, usia, aktivitas, dan kesempatan.

“Melalui Batik Walk kami ingin menunjukkan bahwa batik bukan hanya pakaian resmi atau busana seremonial, tetapi dapat menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari,” tutur Sendy.

Setelah menyelesaikan rute perjalanan, peserta mengikuti sejumlah kegiatan di halaman Gedung Bank Indonesia.

Agenda tersebut meliputi Senam Batik, peluncuran Batik Difabel Cimahi, kegiatan literasi QRIS, serta pameran produk usaha kecil dan menengah (UKM) batik Jawa Barat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-18 YBJB. Perayaan ditandai dengan prosesi tiup lilin serta pemotongan dan makan tumpeng bersama.

“Acara ini juga memperingati HUT YBJB ke-18 tahun. Di Gedung BI kami melakukan tiup lilin dan keruk tumpeng bersama,” ujar Sendy.

Menurut Sendy, kehadiran pelaku UKM batik menjadi ruang promosi sekaligus mempertemukan para perajin dengan masyarakat sebagai calon pengguna produk batik.

Dia menambahkan, peluncuran Batik Difabel Cimahi menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian acara. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian dan pengembangan batik dapat melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

“Batik harus menjadi ruang kreativitas, pemberdayaan, dan peningkatan kemandirian ekonomi yang terbuka bagi siapa pun,” ujarnya.

Melalui Batik Walk, Sendy berharap kebersamaan antara masyarakat, komunitas, mahasiswa, lembaga, perajin, pelaku usaha, dan pemerintah semakin kuat dalam menjaga keberlanjutan batik Jawa Barat.

“Harapan kami, kegiatan ini menjadi awal yang baik menuju Jambore Batik Jawa Barat 2026 sebagai ruang kolaborasi, promosi, edukasi, regenerasi, dan penguatan jejaring para perajin batik dari seluruh Jawa Barat,” pungkasnya.

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami