KataKerja.co.id, BERITA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dua kejadian bencana baru dalam periode pemantauan 22 Juni 2026 pukul 07.00 WIB hingga 23 Juni 2026 pukul 07.00 WIB, yakni kekeringan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, dan banjir di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Di saat yang sama, BNPB juga terus memantau penanganan sejumlah bencana yang masih berlangsung, mulai dari dampak gempa bumi di Sulawesi Tengah, kekeringan di Jawa Tengah, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa provinsi.
Kekeringan yang dipicu fenomena hari tanpa hujan (HTH) selama musim kemarau melanda Desa Linggamukti, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut, sejak 24 Mei hingga 22 Juni 2026. Sebanyak 350 kepala keluarga (KK) mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Sebagai langkah penanganan, pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan air bersih guna memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak.
Sementara itu, banjir akibat meluapnya sungai setelah hujan lebat pada 21–22 Juni 2026 merendam 37 rumah di Desa Muduran Candian, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi.
Sebanyak 37 KK terdampak dalam kejadian tersebut. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, banjir sempat mengganggu aktivitas warga. BNPB melaporkan kondisi terkini genangan telah surut dan masyarakat mulai kembali menjalankan aktivitas seperti biasa.
Di Sulawesi Tengah, proses penanganan pascagempa bumi yang terjadi pada 16 Juni 2026 masih terus berlangsung. Berdasarkan data terbaru, bencana tersebut mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, 3.262 KK atau 9.501 jiwa terdampak, 81 orang mengalami luka ringan, dan 14 orang luka berat.
Pendataan kerusakan masih terus dilakukan dengan rincian sementara mencapai 3.846 rumah rusak ringan, 1.120 rumah rusak sedang, dan 214 rumah rusak berat.
Hingga 21 Juni 2026 pukul 16.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 1.149 gempa susulan di wilayah terdampak. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menetapkan status tanggap darurat sejak 17 hingga 23 Juni 2026, sementara BNPB terus memberikan pendampingan selama proses penanganan berlangsung.
BNPB juga melaporkan banjir di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, yang terjadi pada 20 Juni 2026, telah surut. Sebanyak 343 KK terdampak, 32 KK sempat mengungsi, serta dua unit rumah mengalami kerusakan ringan.
Di sektor kekeringan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, masih menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan. Sebanyak 1.986 KK atau 6.146 jiwa mengalami kekurangan air bersih.
Pada 22 Juni 2026, pemerintah daerah menyalurkan sembilan tangki air bersih dengan total volume 45.000 liter kepada 207 KK atau 716 jiwa di Kecamatan Kemalang.
Secara kumulatif, selama 15–22 Juni 2026, telah didistribusikan 97 tangki air bersih atau setara 485.000 liter kepada 2.175 KK atau 6.862 jiwa penerima manfaat.
Sementara itu, banjir rob di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang sebelumnya berdampak pada 127 KK dan 73 rumah, dilaporkan mulai berangsur surut. BNPB menyebut ketersediaan air bersih masih relatif aman, sementara aktivitas pendidikan dan pelayanan kesehatan tetap berjalan normal.
Di sektor kebakaran hutan dan lahan, BNPB terus memantau perkembangan di sejumlah daerah.
Di Provinsi Riau, total luas lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 22 Juni 2026 mencapai sekitar 15.220,34 hektare tanpa adanya penambahan luas kebakaran.
Sementara di Sumatera Selatan, luas lahan terbakar hingga 20 Juni 2026 tercatat 305,39 hektare, juga tanpa penambahan.
Adapun di Kalimantan Tengah, luas karhutla sejak awal tahun mencapai 456,78 hektare, dengan tambahan kebakaran seluas 0,05 hektare di Kabupaten Kotawaringin Timur dan 1,5 hektare di Kabupaten Sukamara.
Memasuki musim kemarau, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan.
Pemerintah daerah diminta menyiapkan sumber air alternatif, mengoptimalkan distribusi air bersih, serta memperkuat konservasi air. Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak dan segera melaporkan apabila terjadi gangguan pasokan air bersih.
BNPB juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta memperkuat pengawasan di wilayah rawan karhutla melalui patroli, deteksi dini titik panas, dan kesiapan sarana pemadaman.
Khusus bagi masyarakat di wilayah terdampak gempa Sulawesi Tengah, BNPB meminta warga tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, mengikuti arahan petugas, serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.














