KataKerja.co.id, BERITA — Badan Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) memperingatkan bahwa tahun terpanas sejak pencatatan dimulai hampir dipastikan akan terjadi dalam lima tahun mendatang.
Dalam laporan yang dirilis Kamis, WMO menyebut terdapat peluang sebesar 86 persen bahwa salah satu tahun antara 2026 hingga 2030 akan melampaui 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat.
Selain itu, WMO memperkirakan ada kemungkinan 75 persen rata-rata suhu global selama periode 2026–2030 akan melebihi ambang 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Para ilmuwan menilai kenaikan suhu tersebut dapat memicu cuaca ekstrem yang lebih sering dan intens, seperti gelombang panas dan badai.
Batas kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius sendiri merupakan target utama dalam Perjanjian Paris yang disepakati hampir 200 negara pada 2016 untuk menekan dampak terburuk perubahan iklim.
Namun, para ilmuwan dan pemerhati lingkungan telah lama mengingatkan bahwa target tersebut semakin sulit dicapai. Meski begitu, pelanggaran sementara dalam satu tahun belum berarti target Perjanjian Paris sepenuhnya gagal karena penghitungan dilakukan dalam rentang 20 tahun.
Laporan WMO juga menyoroti kondisi kawasan Arktik yang diperkirakan akan mengalami kenaikan suhu hingga 2,8 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991–2020 dalam lima musim dingin mendatang. Jika prediksi itu terjadi, maka Arktik akan memanas lebih dari tiga setengah kali lebih cepat dibanding rata-rata global.
Profesor ekonomi politik dari University of Sheffield, Michael Jacobs, mengatakan dunia perlu bekerja lebih keras untuk memenuhi target Perjanjian Paris.
“This report reminds us of what too many politicians have been urging us to forget: that climate change is happening, it is getting worse, and the only way of slowing it down is to move as fast as possible to renewable energy and electrification,” kata Jacobs dilansir Al Jazeera.
“(Laporan ini mengingatkan kita pada hal yang terlalu banyak dilupakan oleh para politisi: bahwa perubahan iklim benar-benar terjadi, kondisinya semakin buruk, dan satu-satunya cara untuk memperlambatnya adalah dengan beralih secepat mungkin ke energi terbarukan dan elektrifikasi),” kata Jacobs dilansir Al Jazeera.
Ia menambahkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil perlu segera dikurangi, terutama setelah konflik di Iran kembali menunjukkan rentannya pasokan dan harga energi fosil.
Laporan tersebut juga memprediksi curah hujan akan meningkat di kawasan Sahel, Eropa Utara, Alaska, dan Siberia dalam lima tahun ke depan. Sebaliknya, wilayah Amazon diperkirakan akan mengalami kondisi yang lebih kering.
Peringatan ini muncul ketika sejumlah wilayah di Eropa Barat tengah dilanda gelombang panas. Suhu di beberapa wilayah Inggris bahkan mencapai lebih dari 35 derajat Celsius pada Selasa, memecahkan rekor suhu terpanas bulan Mei untuk hari kedua berturut-turut.
Kepala iklim PBB, Simon Stiell, menyebut gelombang panas ekstrem di Eropa menjadi pengingat nyata akan bahaya krisis iklim.
“The science is clear that human-induced climate change is making these heatwaves more frequent and extreme,” ujar Simon.
“(Ilmu pengetahuan telah dengan jelas menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia membuat gelombang panas ini menjadi lebih sering terjadi dan semakin ekstrem),” ujar Simon.
Menurutnya, perlindungan terhadap manusia, ekonomi, dan dunia usaha dari dampak perubahan iklim harus menjadi prioritas setiap negara, termasuk dengan mempercepat transisi dari bahan bakar fosil menuju energi bersih.














