Presiden Konferensi Peninjauan ke-11 NPT dan Perwakilan Tetap Vietnam untuk PBB. (Foto: un.org)

Konferensi Nuklir PBB 2026 Gagal Capai Kesepakatan, Konflik AS-Iran Jadi Pemicu Utama

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.co.id, BERITA — Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung selama empat minggu untuk meninjau perjanjian pencegahan penyebaran senjata nuklir berakhir tanpa kesepakatan pada Jumat, 22 Mei 2026.

Kegagalan tersebut disebut dipengaruhi oleh perselisihan berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Teheran.

Pertemuan yang membahas evaluasi Perjanjian tentang Nonproliferasi Senjata Nuklir atau The Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) itu dipimpin Duta Besar Vietnam untuk PBB, Do Hung Viet.

Ia mengumumkan tidak tercapai konsensus di antara 191 negara penandatangan perjanjian, termasuk terhadap rancangan dokumen akhir yang sebelumnya telah dilunakkan.

Do Hung Viet mengatakan tidak ada satu pihak yang secara langsung menghalangi tercapainya kesepakatan.

Namun, ia mengakui salah satu penyebab utama kebuntuan adalah isi draf akhir yang menyebut Iran “tidak boleh mencari, mengembangkan, atau memperoleh senjata nuklir apa pun.”

Pernyataan tersebut mendapat penolakan dari misi Iran di PBB. Pemerintah Iran menilai tuntutan Washington terlalu berlebihan dan menjadi penyebab gagalnya konferensi.

“Konferensi Peninjauan NPT gagal untuk ketiga kalinya berturut-turut karena adanya tindakan penghalangan dari Amerika Serikat dan sekutunya,” tulis misi Iran di PBB melalui media sosial X.

Iran juga menilai perjanjian NPT tidak memiliki masa depan apabila tidak disertai upaya perlucutan senjata nuklir secara lebih luas oleh negara-negara besar.

Perjanjian NPT selama ini menjadi fondasi utama dunia dalam mencegah penyebaran senjata nuklir sekaligus mendorong perlucutan senjata secara bertahap. Tujuan akhirnya adalah mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, melalui juru bicaranya menyampaikan penyesalan atas gagalnya konferensi di tengah meningkatnya risiko global terkait ancaman nuklir.

“Semua negara diminta untuk memanfaatkan sepenuhnya semua jalur dialog, diplomasi, dan negosiasi yang tersedia untuk mengurangi ketegangan, menurunkan risiko nuklir, dan pada akhirnya menghilangkan ancaman nuklir,” kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric.

Hubungan AS dan Iran memang telah memanas sejak awal konferensi dibuka pada 27 April 2026.

Washington menuduh Iran tidak mematuhi komitmennya dalam NPT, sementara Iran menilai serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklirnya melanggar hukum internasional.

Sebagai negara anggota NPT, Iran diwajibkan membuka fasilitas nuklirnya untuk inspeksi oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) atau Badan Energi Atom Internasional.

Namun hingga kini, Iran disebut belum memberikan akses penuh terhadap lokasi nuklir yang sebelumnya terkena serangan.

Kegagalan konferensi tahun ini menjadi yang ketiga secara berturut-turut. Sebelumnya, pada peninjauan NPT tahun 2022, kesepakatan juga gagal dicapai setelah Rusia menolak dokumen akhir yang menyinggung invasi ke Ukraina dan situasi di pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia.

Berulangnya kebuntuan dalam forum NPT menunjukkan tantangan besar diplomasi global di tengah meningkatnya konflik geopolitik dan ketegangan antarnegara pemilik pengaruh besar terhadap isu nuklir dunia.

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami