Penganugerahan Guinness World Records kepada Gua Metanduno atas pengakuan sebagai lukisan seni nonfiguratif tertua di dunia. (Foto: detik.com)

Lukisan Cadas Indonesia Diakui Guinness World Records, BRIN Sebut Jadi Narasi Cerita Tertua di Dunia

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.co.id, BERITA — Indonesia kembali mendapat sorotan dunia internasional setelah temuan lukisan cadas prasejarah diakui sebagai narasi cerita tertua di dunia oleh Guinness World Records. Pengakuan tersebut dinilai membuka peluang besar bagi pengembangan arkeowisata berbasis situs prasejarah di Indonesia.

Dalam agenda BRIN Goes to Industry 4 di Kantor BRIN, Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.

Peneliti Pusat Riset Arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Adhi Agus Octaviana, menjelaskan Indonesia memiliki ratusan situs gambar cadas di kawasan karst yang menyimpan nilai sejarah penting dan menjadi bukti perkembangan manusia modern awal di Nusantara.

“Sampai terakhir bulan Januari kemarin kita sudah publikasikan umur pertanggalan minimum gambar cadas prasejarah di Indonesia tertua dari cangkang di Leang Metanduno sekitar minimum 67.800 tahun yang lalu. Ini bukti manusia modern awal yang datang ke Nusantara,” ujar Adhi.

Selain itu, Indonesia juga disebut memiliki adegan naratif tertua di dunia yang ditemukan melalui lukisan cadas di Sulawesi Selatan. Temuan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Nature.

“Selain punya oldest non-figurative art, kita juga punya oldest naratif scene, jadi ini bukti storytelling tertua di dunia sekitar 51.000 tahun yang lalu maupun yang 48.000 tahun oldest hunting scene tertua di dunia. Dan alhamdulillah Guinness World Record sudah mengakuinya juga,” kata Adhi.

Salah satu situs yang kini menjadi perhatian ialah Gua Metanduno atau Leang Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Situs tersebut dinilai lebih mudah dijangkau wisatawan dibanding lokasi lukisan cadas lain yang umumnya berada di kawasan terpencil.

Minat wisata terhadap situs prasejarah juga meningkat di Taman Arkeologi Leang-Leang, terutama setelah publikasi penelitian usia lukisan prasejarah menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.

Meski begitu, BRIN mengingatkan tingginya kunjungan wisata dapat menjadi ancaman bagi kelestarian situs. Panas tubuh dan uap dari pengunjung disebut berpotensi mempercepat pengelupasan dinding gua tempat lukisan prasejarah berada.

Sebagai solusi, BRIN kini memanfaatkan teknologi digital melalui platform Google Arts & Culture agar masyarakat dapat menikmati tur virtual dan informasi situs prasejarah Indonesia tanpa mengganggu kondisi aslinya.

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami