Foto super close-up Hajar Aswad. (foto: Dok. National Geographic)

Ilmuwan Menilai Hajar Aswad Berasal dari Material Luar Angkasa, Ini Fakta Ilmiah dan Spiritualnya

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.co.id, BERITA — Hajar Aswad merupakan salah satu simbol paling sakral dalam Islam yang terletak di sudut tenggara Ka’bah dan selalu menjadi pusat perhatian jutaan jemaah haji serta umrah dari seluruh dunia.

Selama berabad-abad, umat Islam meyakini batu hitam ini berasal dari surga, sebuah keyakinan yang kini justru mendapat sorotan menarik dari dunia sains modern.

Dalam riwayat Islam, Hajar Aswad diyakini dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim AS saat pembangunan Ka’bah. Sejumlah hadis menyebutkan batu ini awalnya berwarna putih bersih sebelum menghitam akibat dosa manusia.

Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad adalah batu dari batu-batuan surga.” (HR At-Tirmidzi).

Secara spiritual, Hajar Aswad tidak hanya menjadi bagian fisik Ka’bah, tetapi juga simbol keimanan, sejarah, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, sejumlah kajian ilmiah mulai menelusuri asal-usul Hajar Aswad dari sudut pandang sains.

Salah satu penelitian yang kerap dikaitkan dengan topik ini datang dari Elsebeth Thomsen, ilmuwan University of Copenhagen, melalui studinya berjudul “New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba” (Cahaya Baru tentang Asal-usul Batu Hitam Suci Ka’bah).

Thomsen menilai Hajar Aswad memiliki kemiripan karakteristik dengan kaca impaksit, yakni material yang terbentuk akibat tumbukan meteorit besar dengan permukaan bumi.

Dugaan tersebut diperkuat oleh kaitan dengan Kawah Wabar di wilayah Rub’ al Khali, Arab Saudi, yang dikenal sebagai lokasi jatuhnya meteorit ribuan tahun lalu dan ditemukan kembali oleh penjelajah Inggris Harry St. John Philby pada 1932. Penelitian Dietz dan McHone (1974) menyebutkan Hajar Aswad tersusun dari beberapa fragmen kecil yang disatukan dengan perak.

Permukaannya hitam mengilap, sementara bagian dalamnya berwarna putih terang, bahkan dilaporkan mampu mengapung di air—sifat yang jarang dimiliki batuan biasa.

Ciri-ciri tersebut dinilai sangat mirip dengan kaca impaksit dari Kawah Wabar yang memiliki bagian luar hitam berkilau, bagian dalam putih berpori, serta mengandung unsur nikel dan besi akibat panas ekstrem tumbukan meteorit.

Kajian El Goresy dkk. (1968) juga menunjukkan material ini terbentuk dari lelehan pasir silika karena benturan berenergi tinggi. Thomsen kemudian membandingkan sampel kaca Wabar di Museum Geologi Kopenhagen dengan deskripsi Hajar Aswad dan menemukan kemiripan yang kuat. Usia material tersebut diperkirakan mencapai sekitar 6.400 tahun.

Meski demikian, penelitian ilmiah dilakukan tanpa mengambil atau merusak sampel langsung dari Hajar Aswad, mengingat kesakralannya. Dalam konteks keagamaan, temuan ini tidak dipahami sebagai bantahan terhadap keyakinan umat Islam. Sebaliknya, banyak pihak menilai sains justru membuka ruang dialog yang memperkuat keimanan.

Keyakinan bahwa Hajar Aswad “turun dari langit” menemukan titik temu dengan pendekatan ilmiah modern mengenai material luar angkasa.

Hajar Aswad pun tetap dipandang sebagai simbol spiritual utama dalam Islam. Kajian ilmiah hadir sebagai upaya memahami fenomena alam dan sejarah, tanpa mengurangi nilai sakral yang diyakini umat.

Dalam hal ini, iman dan ilmu pengetahuan berjalan berdampingan, saling menguatkan dalam mengungkap keagungan ciptaan Tuhan.

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami