KataKerja.co.id, BERITA — Insiden penembakan yang terjadi di kompleks Islamic Center of San Diego, Amerika Serikat, menewaskan lima orang termasuk dua pelaku yang diduga mengakhiri hidup setelah serangan berlangsung. Peristiwa tersebut kini diselidiki sebagai dugaan kejahatan bermotif kebencian terhadap komunitas Muslim.
Presiden AS, Donald Trump, menyebut insiden itu sebagai peristiwa yang mengerikan dan memastikan pemerintah federal tengah mengumpulkan informasi lebih lanjut terkait kasus tersebut.
“Mereka sedang memberikan pengarahan tentang hal itu dan ini adalah situasi yang mengerikan. Saya telah diberi beberapa informasi awal, tetapi kami akan kembali dan menelitinya dengan sangat cermat,” kata Presiden Trump kepada wartawan di Gedung Putih, melansir Anadolu, Selasa, 19 Mei 2026.
Penembakan terjadi pada Senin di kawasan Clairemont, San Diego. Menurut aparat setempat, korban meninggal terdiri dari tiga warga sipil serta dua tersangka penembak berusia sekitar 17 dan 19 tahun.
Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl, mengatakan lokasi serangan yang berada di pusat Islam membuat aparat menangani kasus ini sebagai dugaan hate crime hingga investigasi membuktikan sebaliknya.
Salah satu korban dilaporkan merupakan petugas keamanan pusat Islam yang disebut berperan penting mencegah jumlah korban lebih besar. Sementara itu, pihak berwenang masih menyusun kronologi dan motif di balik aksi penembakan tersebut.
Meski insiden terjadi di area yang juga digunakan sebagai sekolah Islam, otoritas memastikan tidak ada anak-anak yang mengalami luka fisik.
Imam masjid, Taha Hassane, menegaskan pusat Islam tersebut selama ini menjadi ruang ibadah dan aktivitas lintas komunitas, termasuk bagi warga non-Muslim.
Wali Kota San Diego, Todd Gloria, menyampaikan dukungan kepada komunitas Muslim dan menegaskan tidak ada ruang bagi kebencian di kotanya.
Di sisi lain, Federal Bureau of Investigation melalui Direktur Kash Patel memastikan seluruh sumber daya akan dikerahkan untuk membantu proses penyelidikan bersama aparat lokal.
Pasca-insiden, New York City Police Department juga meningkatkan pengamanan di masjid-masjid sebagai langkah antisipasi, meski belum ditemukan ancaman spesifik di wilayah New York.
Kantor Gubernur California, dipimpin Gavin Newsom, menyatakan terus memantau perkembangan kasus serta berkoordinasi dengan aparat penegak hukum.
Peristiwa ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan tempat ibadah dan meningkatnya potensi serangan bermotif kebencian di Amerika Serikat.














