Perbandingan harga BBM di Kawasan ASEAN. (Foto: ist)

Perbandingan Harga BBM di ASEAN 2026: Mengapa Bisa Berbeda Jauh?

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.co.id, BERITA — Harga bahan bakar minyak (BBM) di negara-negara ASEAN menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Ada negara yang mampu menjual BBM dengan harga sangat murah berkat subsidi dan produksi minyak domestik yang kuat, sementara negara lain menetapkan harga lebih tinggi karena pajak, kebijakan lingkungan, atau mekanisme pasar.

Berdasarkan data tahun 2026, berikut kisaran harga BBM di beberapa negara ASEAN:

  • Indonesia (RON 92) Rp16.250
  • Malaysia (RON 95) Rp8.000 – Rp16.000
  • Vietnam (RON 95) Rp15.000 – Rp16.000
  • Brunei Darussalam Rp4.000 – Rp6.500
  • Thailand Rp17.000 – Rp27.000
  • Filipina Rp25.000 – Rp27.000
  • Myanmar Rp37.000 – Rp40.000
  • Laos Rp31.000 – Rp32.000
  • Kamboja Rp20.000 – Rp22.000
  • Singapura Rp47.000 – Rp60.000

Sementara itu, rata-rata pendapatan bulanan di beberapa negara ASEAN tercatat sebagai berikut:

  • Singapura SGD 1.910
  • Malaysia RM 1.700
  • Filipina PHP 15.290
  • Thailand THB 10.400
  • Indonesia Rp 5,73 juta
  • Vietnam VND 5,31 juta

Secara garis besar, terdapat empat faktor utama yang memengaruhi harga BBM di setiap negara:

1. Pajak

Pemerintah dapat mengenakan pajak tinggi terhadap BBM untuk mengendalikan konsumsi energi dan mengurangi emisi karbon.

Singapura menjadi contoh paling jelas. Negara tersebut sengaja menetapkan berbagai pajak dan biaya kepemilikan kendaraan yang tinggi agar penggunaan mobil pribadi tidak berlebihan dan kemacetan dapat ditekan.

2. Subsidi dan Pengendalian Harga

Sebagian negara memilih memberikan subsidi energi agar harga BBM tetap terjangkau bagi masyarakat.

Malaysia, misalnya, mempertahankan harga BBM yang relatif rendah melalui skema subsidi BUDI95 bagi warga negaranya. Kebijakan ini membuat masyarakat tidak terlalu terdampak fluktuasi harga minyak dunia.

3. Pasokan dan Produksi Minyak

Negara yang memiliki cadangan minyak dan kapasitas pengolahan yang besar biasanya lebih mudah menjaga harga BBM tetap rendah.

Malaysia memiliki kilang minyak dengan kapasitas produksi sekitar 600.000–700.000 barel per hari. Sementara Brunei sebagai negara penghasil minyak dapat menjual BBM dengan harga yang jauh lebih murah dibanding banyak negara ASEAN lainnya.

4. Nilai Tukar Mata Uang

Harga minyak mentah dunia diperdagangkan dalam dolar AS. Ketika mata uang suatu negara melemah terhadap dolar, biaya impor minyak akan meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga BBM domestik.

Karena itu, negara yang mata uangnya relatif stabil cenderung lebih mampu mengendalikan kenaikan harga energi.

Adapun dampak harga BBM yang tinggi, antara lain:

  1. Meningkatkan Biaya Transportasi: Kenaikan harga BBM langsung memengaruhi biaya operasional kendaraan pribadi, angkutan umum, logistik, hingga transportasi daring.
  2. Mendorong Kenaikan Harga Barang dan Jasa: Distribusi barang bergantung pada transportasi berbahan bakar minyak. Ketika BBM naik, biaya distribusi ikut meningkat dan berpotensi mendorong inflasi.
  3. Menurunkan Daya Beli Masyarakat : Pengeluaran rumah tangga untuk transportasi menjadi lebih besar sehingga anggaran untuk kebutuhan lain berkurang.

Harga BBM di ASEAN tidak hanya ditentukan oleh harga minyak dunia. Kebijakan subsidi, tingkat pajak, kemampuan produksi energi, dan kondisi nilai tukar mata uang menjadi faktor utama yang membentuk harga di masing-masing negara.

Negara seperti Brunei dan Malaysia mampu menawarkan BBM lebih murah karena dukungan produksi energi dan subsidi pemerintah. Sebaliknya, Singapura memilih harga yang lebih tinggi melalui kebijakan pajak untuk mengendalikan penggunaan kendaraan dan mendukung target lingkungan hidup.

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami