KataKerja.id, CATATANKAKI – Banjir bandang itu datang tiba-tiba menderu sembari membawa kengerian di Senin malam (13/7/2020). Dalam gelapnya malam, ribuan masyarakat berlarian menyelamatkan diri. Aliran sungai yang dulu menjadi sumber penghidupan, malam itu berubah menakutkan. Lumpur dan beragam material lainnya menerjang apapun yang dilaluinya.
Puluhan orang meninggal dunia, belasan masih dalam proses pencarian dan belasan ribu lainnya kini tengah merenungi nasib di tenda-tenda pengungsian. Rumah-rumah warga, fasilitas umum dan fasilitas sosial terbenam lumpur. Tak ada yang tersisa selain nestapa dan air mata.
Banjir bandang yang meluluhlantakkan Luwu Utara di Senin malam itu telah mengubur begitu banyak harapan, tapi tidak dengan kepedulian. Atas nama cinta, semua bergerak. Penggalangan dana berlangsung di setiap sudut jalan di seantero Sulawesi Selatan. Semua pihak bahu membahu. Duka Luwu Utara adalah duka seluruh masyarakat Sulawesi Selatan, duka Indonesia.
Jika Anda belum pernah melihat antrian panjang kepedulian, datanglah ke Masamba, Luwu Utara. Enam hari pasca banjir bandang, ribuan relawan dengan beratus-ratus kendaraan berisi bantuan, masih terus mengantri untuk memasuki kota Masamba.
Macet bekilo-kilo meter tak menyurutkan kepedulian mereka. Dari banjir bandang Luwu Utara, kita belajar banyak hal. Alam adalah ibu yang selama ini menjaga dan menghidupi kita. Merawat dan memeliharanya adalah sebuah keharusan.
Banjir bandang Luwu Utara juga lagi-lagi menjadi penyaksi betapa kepedulian tak pernah pergi jauh dari sanubari masyarakat Sulawesi Selatan. Panjang umurlah kebaikan, sehat selalu kemanusiaan, sejahteralah mereka yang peduli.
Penulis,
Abo Stanley (Jurnalis)
Makassar, 19 April 2020














