KataKerja.id, CATATANKAKI – Sumpah, untuk beberapa saat saya hanya bisa menatap layar telepon selular. Blank. Saya sungguh tak tau harus menulis apa. Butuh beberapa menit hingga saya bisa menjawab pesan dari seorang sahabat yang masuk via WhatsApp di dini hari ini, jelang sahur.
Dia mengirim kabar duka. Setelah sekian lama, akhirnya kekhawatirannya terbukti. Namanya malam tadi, katanya masuk dalam daftar nama karyawan yang harus dirumahkan. Tempat kerjanya kini mengap-mengap diteror Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).
Ini pesan yang menyesakkan dada. Saya membayangkan dirinya saat ini tengah tersudut merenungi nasib. Pikirannya bergerak, liar entah ke mana arahnya. Apa yang ada di hadapannya saat ini hanyalah tentang kelangsungan hidup dua orang anak yang masih kecil dan seorang istri yang menjadi tanggungjawabnya.
Susu dan pempers bagi si bungsu, biaya sekolah bagi si sulung, kebutuhan hari-hari dan dapur sang istri yang harus terus mengepul adalah keharusan yang membuatnya kini pasti tengah linglung, nyaris limbung. Itu belum ditambah sejumlah tanggungan kredit yang selama ini membebani hidupnya, bulan per bulan. Lengkap sudah.
Ini luka tak berdarah yang sakitnya melukai hati, jauh menembus ke relung terdalam. Saya yakin dia tak akan terisak, tapi saya pastikan ada yang bergemuruh di dadanya. Sebagai bapak, sebagai suami, harga dirinya jadi taruhan. Dia laki-laki, dia tulang punggung keluarga.
Dia pasti tau kalau tanggungjawab adalah sebuah keniscayaan, tapi ia bisa apa saat ini selain berusaha berkompromi dengan resahnya. Selain berusaha mengurai satu demi satu kemungkinan bertahan hidup, saya yakin sekarang dia belum bertemu solusi. Dini hari ini dia sahur bersama resah, sedih, marah dan kecewa.
Bunyi token di meteran listrik depan rumahnya tentu mulai jadi suara menakutkan. Dering telepon dari bank dan penagih lainnya malah sudah serupa panggilan dari malaikat maut. Belum lagi ditambah pesan tersirat di wajah sang istri yang mengabarkan kondisi stok di dapur yang menipis tanpa perlu ditapis. Akh, kurang lengkap apalagi dukamu, sahabat.
Ini sahur di Ramadan hari ke-16 yang menyesakkan dada. Saya membayangkan bagaimana bingungnya dia sebagai seorang kepala rumah tangga ketika gaji yang dulunya lancar tiap bulan masuk ke rekening, tiba-tiba harus terhenti. Rutinitas bangun pagi dan bersiap ke kantor berubah menjadi potongan waktu yang panjang dan melelahkan, terutama bagi hati dan pikiran. Beban ngeri sang waktu bukan hal mudah untuk dikompromikan. Berat.
Ini hari-hari yang akan kita lalui bersama dengan beragam kabar duka, sahabat. Serupa, dengan sakit yang tak jauh beda. Fakta memperhadapkan kita pada kenyataan bahwa saat ini nestapa adalah setapak yang harus ditapaki. Beratnya beban hidup harus kita pikul, sembari meniti hari-hari panjang penuh onak yang entah sampai kapan berakhirnya.
Saya mengakhiri percakapan dengan sang sahabat di dini hari ini dengan saling menguatkan. Saya memintanya bersabar. Sumpah, ini bukan basa basi. Kita memang harus memastikan diri untuk bisa bersabar saat ini. Saya juga memintanya untuk tetap berusaha dan meyakini kekuatan doa. Selain itu, saya rasa tak ada lagi yang lain yang bisa kita lakukan.
Ini masa di mana beban hidup menggantung di setiap persendian. Mengeluh tentu hanya menambah beban. Allah kuasa. Saya percaya itu. Dan saya juga percaya bahwa akan selalu ada saudara yang berdiri di sampingmu ketika lara melarung. Saya percaya itu!
Penulis,
Abo Stanley
Makassar, 9 Mei 2020














