Indahnya pemandangan dari puncak Buntu Sarira - (foto by Fuad Said)

Indahnya Samudera di Atas Awan dari Puncak Buntu Sarira

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.id, DESTINASI – Sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Sulawesi Selatan, Tana Toraja memang memiliki begitu banyak tempat yang menawarkan keindahan alam. Salah satunya adalah Buntu Sarira. Terletak di Kelurahan Sarira, Tilanga’, Kecamatan Makale Utara, Tana Toraja, Buntu Sarira menyajikan sensasi pemandangan berupa hamparan samudera di atas awan.

Butuh waktu sekitar 3 jam mendaki tebing terjal untuk tiba di puncaknya. Kepada KataKerja.id, salah seorang anggota Pendaki Indonesia Korwil Makassar, Fuad Said menggambarkan tantangan yang harus dihadapi saat merayapi setapak demi setapak tebing terjal tersebut. “Kami memulai pendakian pada siang hari dan tiba sekitar pukul lima sore,” terangnya, Selasa (14/7/2020).

Fuad dan kawan-kawan beruntung. Setibanya di puncak Buntu Sarira, alam menghadirkan kepada mereka awan berarak bak gelombang di tengah samudera. Tak hanya berhenti sampai di situ, pemandangan saat malam hari juga tak kalah indahnya. “Untuk menginap di puncak, kami memang telah mempersiapkan air dari bawah karena di atas tidak ada sumber air,” jelas Fuad.

Fuad menambahkan, tak butuh merogoh kocek untuk menikmati keindahan Buntu Sarira. “Kami hanya minta Ijin ke warga di Tilanga’, termasuk menitip kendaraan di rumah warga.”

Berada di ketinggian sekitar 1230 meter dari permukaan laut (mdpl), butuh fisik yang prima serta kemampuan mendaki tebing terjal untuk mencapai dan turun dari puncak Buntu Sarira. Kata Fuad, “Turunnya pun harus hati-hati karena selain tebingnya terjal dan curam, juga banyak jenis batuan yang tergolong tajam dan bisa melukai tangan.”

Di balik keindahannya, Buntu Sarira yang berjaraknya sekitar 30 menit dari pusat Kota Makale, juga menyimpan kisah leluhur suku Toraja. Menurut Fuad, dikisahkan warga sekitar, dahulu kala, saat masyarakat akan melaksanakan sebuah kegiatan, mereka biasanya pergi ke langit untuk bertanya ke para dewa penghuni langit.

Suatu ketika, Puang Matua, penghuni langit, marah akibat ulah manusia. Karena kesalahan tersebut berulang, Puang Matua pun dikabarkan marah dan menendang tangga yang menghubungkan bumi dan langit. Tangga menuju langit itu pun berserakan.

Menurut kepercayaan masyarakat Toraja, sisa tangga langit yang berserakan itulah yang menjadi gugusan pegunungan batu yang terbentang di Sulawesi Selatan, mulai dari Enrekang sampai Toraja. Salah satunya dikenal dengan nama Buntu Sarira.

 

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami