KataKerja.id, CATATANKAKI – 7 tahun lalu saya pernah melakukan tugas peliputan ke Papua terkait pembunuhan sejumlah warga pendatang. Para korban umumnya mati tertembak. Seorang peneliti asal Jerman ikut ketiban sial. Dia ditembak saat lagi berenang bersama keluarganya di base G, sebuah pantai yang indah di Jayapura. Nyawanya tertolong tapi dua peluru bersarang di rusuk dan pahanya.
Dua minggu di tanah yang subur itu, akhirnya saya beruntung bisa bertemu dengan salah satu pentolan gerakan perlawanan di Papua. Namanya, Victor Yeimo. Saya berkesempatan mewawancarainya di salah satu kawasan hutan di sekitar Waena, Rusunawa Uncen Abepura.
Victor memakai pet lusuh. ada sebuah bintang berwarna merah di tengah pet-nya. Dia bercerita banyak tentang pilihannya untuk melawan. Sejarah panjang perlawanannya bahkan jauh hingga ke london. Saya masih ingat dengan jelas ketika anak muda cerdas itu menjelaskan alasannya masuk hutan dan meninggalkan ruang-ruang diplomasi di Eropa. “Diplomasi tak ada hasilnya. kami memang harus berperang untuk memperjuangan hak kami.”
Pemuda berambut gimbal yang menguasai beberapa bahasa ini marah pada pemerintah Indonesia yang menurutnya hanya mau ‘memperkosa’ kekayaan alam Papua tapi tak pernah peduli pada nasib warga asli Papua. Victor bilang, rakyat Papua seperti pendatang di tanah mereka yang kaya. Menurut Victor, orang Papua cuma bisa melihat para pendatang menggeruk sumber daya alam mereka, sementara mereka hanya bisa menghabiskan hari dengan sirih dan pinang.
Victor marah. Dan marah yang sama kembali meradang hari ini di Papua. Insiden merah putih di asrama mahasiswa Papua di Surabaya menyulut banyak amarah.
Sejarah kelam memang sampai saat ini masih menyelimuti tanah Papua. Dan dari Papua, Indonesia hari ini kembali didera cobaan. Perpecahan yang dulu membinasakan ribuan orang di Ambon, Poso, Aceh, Timor-Timur, Kalimantan dan sejumlah wilayah lainnya, kembali hadir di depan mata. Pilihannya hanya dua, mau ikut skenario sang sutradara, atau memilih berangkulan dan berteriak, “Kami indonesia, kami satu, kami bersaudara.”
Penulis
Abo Stanley (Jurnalis)
Makassar, 19 Agustus 2019
====================














