Ilustrasi: Pendaki gunung - (foto by british mountain guides)

Cara Mengatasi Hipotermia, Pendaki Gunung Wajib Tahu

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.idDESTINASI – Hipotermia memang kerap menjadi momok menakutkan bagi para pendaki gunung. Wawan Kurniawan, seorang pendaki gunung asal Bulukumba meninggal dunia diduga akibat hipotermia, Senin, 17 Agustus 2020. Almarhum sebelumnya melakukan pendakian di Gunung Bawakaraeng dalam rangka peringatan hari kemerdekaan Indonesia.

Hipotermia adalah kondisi dimana suhu badan seseorang turun drastis ke level yang jauh dari normal. Suhu normal tubuh berkisar antara 36,6 hingga 37,7 derajat celcius, sedangkan seseorang dikatakan mengalami hipotermia ketika suhu tubuhnya berada di bawah 35 derajat celcius.

Hipotermia terjadi ketika tubuh tidak lagi mampu memproduksi cukup panas untuk menghangatkan diri. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, organ-organ di dalam tubuh akan mengalami kerusakan dan bukan tidak mungkin akan menyebabkan penderita hipotermia tidak terselamatkan lagi.

Gejala hipotermia

Orang yang menderita hipotermia akan memperlihatkan gejala-gejala sebagai berikut:

  • Tubuh gemetar yang menandakan bahwa sistem pemanas di tubuhnya masih bekerja dengan baik. Gemetar ini bisa berhenti karena orang tersebut sudah terbebas dari hipotermia, tapi juga bisa karena hipotermia yang dideritanya sudah makin parah.
  • Napas pendek dan lemah
  • Kebingungan dan pikun
  • Mengantuk dan merasa lelah
  • Bicara melantur atau tidak jelas
  • Kehilangan koordinasi, biasanya terlihat dari langkah yang gontai atau pegangan yang tidak kuat
  • Denyut nadi yang teraba lemah
  • Pada hipotermia akut, penderitanya akan tidak sadarkan diri dengan kondisi nadi yang sangat lemah atau bahkan tidak teraba

Untuk mengatasinya, Anda tidak boleh asal menghangatkan tubuhnya. Cara mengatasi hipotermia yang salah justru akan menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

Penyebab hipotermia

Penyebab hipotermia salah satunya adalah kehilangan suhu tubuh yang disebabkan oleh radiasi (penghantaran) seperti akibat baju yang basah dan suhu lingkungan yang rendah, maka suhu tubuh akan terbuang ke lingkungan, begitu juga bila tidur pada alas yang dingin.

Bagaimana cara mengatasi hipotermia yang tepat?

Seseorang yang menderita hipotermia memang harus mendapat penanganan medis sesegera mungkin. Berikut cara mengatasi hipotermia sebagai pertolongan pertama yang bisa Anda lakukan jika menemukan orang yang mengalami penurunan suhu tubuh ekstrem, dirilis KataKerja.id dari sehatQ:

  • Pindahkan orang tersebut dari tempat dingin ke tempat yang lebih hangat dan kering. Bila memungkinkan, buat tenda untuk melindungi orang tersebut dari cuaca dingin atau angin kencang. Anda juga dapat menempatkannya pada sleeping bag agar lebih hangat.
  • Buka pakaian yang basah, robek bila perlu. Bila memungkinkan ganti baju dengan pakaian yang hangat.
  • Bungkus badannya dengan selimut hingga kepala dengan hanya menyisakan bagian wajah yang terbuka.
  • Kontak kulit ke kulit (skin to skin) dimungkinkan. Caranya, buka baju Anda kemudian bungkus diri Anda bersama pasien hipotermia dengan menggunakan selimut. Ini dilakukan untuk mentransfer panas tubuh Anda ke pasien hipotermia.
  • Bila masih sadar, berikan minum hangat pada pasien hipotermia untuk menghangatkan tubuh. Namun, jangan minuman yang mengandung alkohol atau kafein.
  • Bila penderita hipotermia tidak sadarkan diri, lakukan prosedur CPR (cardiopulmonary resuscitation) sampai nadi kembali teraba atau hingga tenaga medis datang. Jika korban sudah sadar, berilah minuman hangat sesegera mungkin.

Cara mengatasi hipotermia di atas seharusnya mulai menunjukkan hasil dalam beberapa menit. Jika pasien hipotermia sudah berhenti gemetar dan bisa tersenyum, berarti ia sudah mulai pulih. Sebaliknya, kalau ia sudah tidak gemetar, tapi belum bisa tersenyum, bisa jadi kondisinya justru makin parah.

Dalam kasus hipotermia tingkat lanjut ini, pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit. Di sana, ia akan dihangatkan dengan cairan IV, diberi bantuan oksigen yang sudah dipanaskan, atau mendapatkan tindakan ‘cuci’ rongga perut (peritoneal lavage). Sebisa mungkin, segera cari bantuan medis jika menunjukkan tanda yang parah.

 

 

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

#Trending

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami