KataKerja.id, DESTINASI – Beberapa tahun terakhir di Indonesia, bushcraft menjadi istilah yang akrab di telinga banyak orang, khususnya yang gemar berkegiatan di alam bebas.
Meski baru mulai naik daun sekitar tahun 2012, namun bushcraft sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Indonesia, karena nenek moyang kita sejak dahulu kala telah mengenal teknik bushcraft.
Bushcraft berarti kerajinan semak yang berasal dari kata bush=semak dan craft=kerajinan. Bushcraft sendiri berasal dari bahasa Belanda, Bosch yang berarti semak/hutan liar di koloni Belanda di Afrika Selatan. Bosch kemudian menjadi cikal bakal lahirnya sebutan Bushman, sebutan untuk Suku San, sebuah suku asli di Afrika.
Pada mulanya teknik bushcraft terinspirasi dari teknik bertahan hidup Suku San (Bushman). Suku ini dikenal dunia setelah difilmkan secara komedi di film ‘God Must Be Crazy.’
Secara umum, bushcraft diartikan sebagai teknik dan cara bertahan hidup di alam liar dengan meminimalisir penggunaan alat modern. Bushcraf mempelajari hal-hal dasar dari survival seperti cara mendapatkan air dan makanan, cara membuat tempat berlindung, cara membuat api hingga cara membuat perkakas tradisional.
Sejarahnya, bushcraft pertama kali dipopulerkan oleh Les Hiddins dan Mors Kochanski di tahun 80-an dan dipopulerkan pada tahun 2000-an oleh Ray Mears.
Bushcraft pada hakikatnya menjadi teknik paling dasar dalam kegiatan survival. Dapat dikatakan, bushcraft merupakan salah satu bagian dari ilmu survival yang mengkhususkan soal cara-cara dasar dalam bertahan hidup di alam liar dengan menekankan penggunaan teknik budaya primitif.
Masyarakat di pedalaman yang jauh dari tekhnologi sudah pasti menguasai bushcraft. Di Indonesia, bushcraft telah dipakai dalam kehidupan sehari-hari pada suku-suku pedalaman yang ada di Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi, hingga Suku Baduy di Jawa Barat.














