KataKerja.id, CATATANKAKI – Meski sering ke dokter, paling banyak karena sakit di kerongkongan dan sekitar dada karena merokok, saya tak punya banyak teman dokter.
Saya tak tahu angka pastinya, tapi seingatku, saya hanya punya beberapa teman dengan titel ‘dr’ di depan namanya. Tak banyak, digabung dengan beberapa kerabat dekat, jumlahnya mungkin cuma ada di angka belasan. Salah satunya adalah dr Wachyudi Muchsin.
Sejak bulan Maret lalu saya melihatnya bertempur di garis depan melawan penyebaran Virus Corona di Makassar. Seperti Hippocrates, dia satu dari ribuan dokter di negeri ini yang juga telah bersumpah atas nama Tuhan untuk membaktikan hidupnya guna kepentingan perikemanusiaan.
Sumpah membuat dokter yang dijuluki Dokter Koboi itu cinta mati pada kemanusiaan. Tak hanya mengurus pasien, dia juga terjun langsung membagikan masker dan paket bantuan sembako ke masyarakat yang terdampak. Dia bahkan ikut dalam penyemprotan disinfektan di banyak tempat. Termasuk menyuntik sendiri dirinya saat drop.
Sama seperti dokter lainnya, Dokter Koboi memang tak sekali dua kali tumbang didera lelah. Tubuhnya menuntut istirahat. Kekhawatiran terjangkit bahkan sering menganggu semangatnya, tapi dia dan rekan-rekan sejawatnya sudah kadung berdiri di garis terdepan. Tak ada kata mundur. Harus ada yang berhadap-hadapan langsung melawan corona, dan itu mereka.
hingga hari ini, ribuan orang-orang baik itu masih mempertaruhkan nyawa mereka di ruang perawatan, ruang pemeriksaan, hingga ruang isolasi. Senyum para pasien yang dinyatakan sembuh jadi candu bagi mereka.
Pertempuran melawan corona masih berlangsung hingga detik ini. Tak sedikit dari para dokter, perawat, polisi, tentara dan relawan yang akhirnya harus berpulang ke rumah tuhan. Mereka gugur demi cinta mereka pada kemanusiaan.
Tak ada iring-iringan yang mengantar kepergian mereka ke liang lahat. Doa dan air mata bahkan hanya dari para keluarga dan sejawat. Dan di saat mereka bertaruh nyawa demi nyawa yang lain, demi nyawa kita, tidakkah lebih elok jika kita bisa sedikit saja menunjukkan simpati.
Di saat mereka tengah bertaruh nyawa demi kita, malu rasanya bila jelang Ramadan tahun ini kita malah sibuk memikirkan baju baru dan pergi berdesak di mall-mall. Berempatilah, sedikit saja.
Penulis,
Abo Stanley
Makassar, 16 Mei 2020














